Dunia Adalah Tipuan, Waspadailah

Redaktur author photo
TAHUKAH, Mitra Pers | Dunia adalah tipuan. Hal ini berdasarkan QS Ali Imran, ayat 185, Allah telah memperingatkan manusia tentang dunia. Maka, secara lahiriah, alam ini adalah sebuah tipuan, namun secara batiniah, ia merupakan sebuah pelajaran. Dan nafsu senantiasa melihat pada lahirnya yang menipu sementara kalbu senantiasa melihat pada tingginya yang memberi pelajaran. Seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Athoillah Al Iskandari.

Jelas, sebagaimana dikatakan Ibnu Athoillah, dunia adalah tempat belajar bagi manusia yang menggunakan kalbunya. Kita bisa belajar dari fenomena ini di sekitar kita, atau bahkan dalam kehidupan diri sendiri. Betapa banyak dari kita yang bekerja keras habis-habisan, tapi akhirnya jatuh sakit dan menghabiskan banyak uang untuk pengobatannya? Atau, hidup kaya raya, tapi sengsara karena anak-anaknya terlibat narkoba.

Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak perintah Allah selain bekerja mencari nafkah, misalnya "berbuat baik".

Dimana, berbuat baik yang paling penting adalah kepada keluarga. Jangan sampai orangtua yang selalu bekerja keras mencari uang, namun di rumah dirinya malah bersikap kasar dan keras kepada anaknya, atau tidak memperhatikan tumbuh kembang anak. Apa gunanya harta banyak tapi anak tidak bahagia karena tidak mendapatkan perhatian dan pendidikan yang cukup dari orang tua. Banyak orang tua merasa sudah mendidik anaknya dengan memasukkan mereka ke sekolah. Padahal, pendidikan terpenting adalah pendidikan agama dan karakter (akhlak), dan itu harus dilakukan sendiri oleh orang tua.

Harta bila dikejar, tak akan pernah terasa cukup. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا ، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ
"Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan lembah yang ketiga. Yang bisa memenuhi dalam perut manusia hanyalah tanah." (HR. Bukhari)

Imam Ali ra berkata, "Dunia adalah tempat perjalanan, bukan tempat tinggal." Artinya, kita jangan menghabiskan seluruh daya upaya untuk membaguskan kehidupan dunia, sampai-sampai melupakan kehidupan akhirat. Kelak di akhirat kita akan ditanyai tanggung jawab masing-masing, misalnya, sudahkah mendidik anak dengan baik? Sudahkah menolong tetangga yang kesulitan? Tidak akan ditanya, seberapa banyak harta yang kaupunya, berapa rumah yang kaupunya?

Oleh karena itu, manusia hendaknya hidup seimbang, memenuhi semua hak orang-orang yang ada di bawah tanggungannya, terutama keluarga. Bukan hanya hak materi, tetapi juga hak kasih sayang dan pendidikan yang benar. [LiputanIslam]
Komentar Anda

Berita Terkini